Untukmu.
hanya ingin memberi kabar, dan semoga akan lebih bermanfaat untuk sekedar kata - kata, dan engkau membersamainya

Cinta Untuk Mu

Terantuk kamu
Hidup dan mati ku
Ku tuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku
Mudah memberikan apapun padamu
Aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah indah
Tetap cantik rambut panjang mu
Meski tak panjang lagi
Dan telah habis sudah
Cinta ini
Hidup dan mati ku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Di Terangkai Gedong Songo

Candi Gedong Songo
Sekitar 10 meter dari ku, seorang perempuan berjilbab ungu tengah berdiri menatap ke kejauhan, wajahnya menggambarkan kegalauan. Tak lama bunyi telpon mendering, menyanyikan lagu seorang artis yang cukup terkenal.
"Hallo, iya saya sendiri." Tiba - tiba air muka nya tampak cemas, seperti ada masalah besar yang baru saja menghantam nya.
"Baik, saya akan usahakan sebaik mungkin." Kata perempuan itu tergesa, langkah nya begitu cepat tergesa, tepat di hadapan ku bunyi telponnya kembali mendering. "Ya hallo, oiya Jhon apa kabar ? Kebetulan sekali, ada tiket pesawat murah kah ke medan ?" Kata perempuan itu menanyakan pada seseorang di telponnya, "oya 250rb ? Baiklah aku ambil ya, berangkat nanti malam kalau bisa" kata perempuan itu melanjutkan, wajahnya sedikit bersinar, ada kebahagiaan yang tampak dari senyum nya. "Aku tunggu laporan selanjutnya ya. Terimakasih sebelumnya" telepon pun di tutup, tak lama senyumnya beralih ke tempat ku berdiri, hanya selisih beberapa anak tangga darinya.
"Maaf, tadi kamu bilang tiket murah?" Setelah saling menyapa aku berani kan diri untuk bertanya, tentang tiket murah yang baru saja di bicarakan wanita asing itu.
"Oh iya betul, kenapa ya?" Jawabnya singkat, tak ada rasa kekhawatiran di wajahnya, mata nya masih menyimpan haru semenjak awal ia mendapatkan kabar yang entah apa kabarnya.
Baru kali ini aku menjadi pengamat, mengamati orang yang tak di kenal.
Di candi Gedong Songo ____
.........berlanjut
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Sehelai Tisu di Jalanan Protokol

Senja sudah tinggal goresannya saja, Adzan sudah beberkumandan menggema saling memantul indah menggema di seantero langit jakarta, jalanan jam segini memang selalu ramai, bahkan macet. Motor - mobil - motor seolah tiada memiliki rasa kemobilan dan kemotoran, hanya saja pengendara nya masih memiliki rasa kemanusiaan. Hehe
Diantara suara adzan yang menggema indah itu, suara klakson dari beberapa kendaraan pun ikut meramaikan nuansa sore ini, tak kalah lampu - lampu yang mulai memantul membuat silau mata yang memandang.
Begitulah yang terjadi sehari - hari di jalanan ibukota. Penuh sesak dan ramai, semuanya berusaha untuk pulang cepat menuju rumah dan bertemu keluarga tercinta nya, ada pula yang akan masih berlanjut dengan pekerjaan nya, dan ada pula yang akan kongkow bareng kelompoknya. Sebuah aktifitas yang umum dilakukan banyak orang, tidak hanya di ibukota saja.
Tapi, adzan magrib sudah mulai selesai, hening rasanya, tiba - tiba ada rasa kehilangan di lubuk ini, sedangkan perjalanan yang entah mau kemana ini masih belum menemukan titik temu nya, ada rindu yang mendalam kepada Masjid, sebuah tempat yang seringkali menolong, memberikan perlindungan dan rasa aman, sebuah tempat yang menentramkan orang didalam nya, dan sesiapapun yang mengingatnya.
"Mas, Mas, Masjid terdekat dimana ya?" Ku beranikan diri untuk bertanya kepada orang - orang yang berkerumun, tak peduli siapa dan sedang apa. Yang penting ia bisa jawab apa yang aku tanyakan.
Alhasil, sebuah jawaban menggembirakan, disertai senyum tulus yang tampak dari wajah lelah nya, "Baik mas, terimakasih, Semoga Allah berikan hidayah kepada kita semua, mari." Jawabku singkat sembari berdo'a dan mengucapkan terimakasih.
Jalanan Protokol ini, adalah pelajaran kehidupan dari beberapa pelajaran kehidupan lainnya. Tentang sebuah gambaran kehidupan, yang ramai oleh desakan ekonomi, yang menggambarkan betapa runyam nya pencarian dunia, sebuah kekhawatiran yang melenakan.
Ini adalah pelajaran berharga, tentang senja yang berpulang, dan terganti oleh gelap malam, juga rembulan yang bersinar.
Semoga Allah berikan cahaya itu, cahaya Hidayah dan Istiqomah, sehingga kekuatan yang sejatinya ada dapat terus ada, dapat bertahan dari kerasnya dunia, dari sebuah pilihan yang akan menampakkan siapa diri ini di hadapan Allah.
#MotivaSenja
#Achev
#JalanProtokol
#25Maret2017
#MenulisBersamaSenja
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Karyamu

Ya, Karya ini terinspirasi dari sosok kamu, seorang yang selalu memberi semangat untuk setiap huruf yang terangkai indah, merangkai manis hingga menyerupai sungai yang elok.

ah, gombalan itu selalu terbayang indah, walau sejatinya amat dirindukan.

Inspirasi untuk terus menulis memang sangat di dambakan, berkisah diantara keheningan hati, sunyi nya rasa, dan bahkan kesendiriannya jasad.

Maka, melangkah adalah sebuah keniscayaan, menjadi orng bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, menjadi orang yang kata Rasulullah sebagai sebaik - baik manusia. Walau hanya dengan senyum dan santum, terlebih semoga dengan pemberiannya yang berlebih. mendamba kasih sang Rabb, sang pemilik Kasih tentunya.

Walau kamu sudah tiada dalam nyata, akan tetapi inspirasi itu akan tetap hidup, Semangat untuk terus menulis akan terus terngiang jelas diantara dua telinga. Apalagi jika orange menghinggapi mataku. Ah rasanya kamu ada di situ, bersama warna tersebut.

Maka jangan salah, apabila hati ini akan terus mendengung bersama do'a, semoga tak lagi berpaling dari cinta sang Allah dan Rasulullah. agar pertaubatan ini murni, murni semurni cinta Nya.

maka, aku sampaikan sekali lagi. Inspirasi dari lisan seorang kamu, yang selalu kamu ucapkan itu, akan terus menepuk kegundahan ku, hingga aku kembali bangkit dan berkata "Bismillah".

Terima kasih, karena rindu akan terus terbang, mengangkasa, bersama angin yang menerbangan, membawanya melalui alur yang indah, alur kebenaran, bersama pertaubatan.

Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Jagalah Kehormatan Diri !

Menjaga kehormatan diri sebagai seorang Muslim dan Muslimah adalah suatu keharusan, perjuangannya adalah amalan Jihad yang apabila berujung pada maut dinilai sebagai mautu fii sabiilillah. Maka, konsekuensi bagi seorang insan Muslim dan Muslimah yang membiarkan kehormatannya di cabik-cabik tanpa perlawanan, hanya akan menyisakan kepedihan yang teramat mendalam, baik di dunia maupun akhirat nantinya.
Maka, jagalah kehormatan diri, karena seorang Muslim dan Muslimah adalah suatu yang bernilai tinggi, Karena Allah dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam teramat mencintai kita.
Baahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam memerintahkan kita, ummatnya, untuk selalu menjaga kehormatan diri (‘Iffah). Dalam sebuah Hadits, Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الْفَقِيرَ الْمُتَعَفِّفَ أَبَا الْعِيَالِ
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah s.w.t. senang dengan hamba-Nya yang Mukmin dan fakir namun tetap menjaga kehormatan dirinya serta menanggung nafkah keluarganya.” (Kanz al-Ummāl, (1/80).)
Berkata sahabat Hakīm bin Hizām r.a.: “Saya pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah s.a.w., dan Beliau memberikannya kepadaku. Kemudian saya meminta kembali yang kedua kali, dan Beliau juga mengabulkan permintaanku itu. Setelah itu Beliau berkata kepadaku:
يا حكيم إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى
Maksudnya: “Wahai Hakīm, sesungguhnya harta benda itu memang indah dan nikmat (digambarkan oleh Rasul dengan hijau dan manis). Sesiapa mengambilnya dengan hati yang lapang (tidak terlalu berobsesi untuk menguaasainya) maka dia akan mendapatkan keberkahan harta tersebut. Dan sesiapa mengambilnya dengan penuh berat hati (sangat berobsesi mendapatkannya sehingga hatinya terasa sempit) maka dia tidak akan mendapatkan keberkahan dengan harta itu, bahkan dia akan menjadi seperti orang sedang makan yang tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas (orang yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta). (H. R. al-Bukhārī dan Muslim).
Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah setiap harta yang didapat dengan cara yang tidak dibenarkan oleh agama tidak akan mendapat keberkahan. Hal itu seperti harta yang diambil dari seseorang, sedangkan orang tersebut merasa berat untuk memberikan harta tersebut.
Maka, diantara penjagaan diri adalah menjaga pandangan. Karena dari pandanganlah sesuatu itu akan dirasa, dan Syahwat akan bermain bersama keindahan pandangan yang dirasa biasa saja. memohonlah kepada Allah agar dilindungi dari kejahatan nafsu, dan syahwat yang menggelora bersama godaan syaithon.

Saling menjaga, bukannya akan semakin indah? 
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Hijab, Adat atau Syariat ?

Manusia tidak berselisih bahwa menutup tubuh merupakan fitrah manusia yang telah tertanam dalam diri mereka, meskipun tidak ada panas, dingin, ataupun hujan. Bahkan meskipun tidak seorang pun melihatnya. Manusia lebih suka memakai pakaian dan berhias meskipun itu hanya dinikmati oleh dirinya sendiri.
Pada zaman dahulu, Adam dan Hawa menutup aurat mereka meski ketika itu tidak ada orang lain. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan bahwa hukuman tersingkapnya baju mereka adalah supaya mereka saling memandang aurat mereka tanpa berniat melakukannya.
… يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءتهمَ …
… Ia tanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al-A’raf [7]: 27)
Namun manusia berbeda pendapat dalam menetapkan batas fitrah ini, yaitu area badan yang harus ditutup.
Tergantung kepada dalil, akal, dan budaya yang mengatur mereka ataupun syahwat dan syubhat yang menguasai diri mereka.
Ketika fitrah menutup aurat menjadi sasaran tarik-menarik antara akal, hawa nafsu, syubhat, serta tipuan setan, syariat Allah datang sebagai pedoman dan keputusan melalui nash-nash yang terdapat pada syariat dan risalah nabi di setiap zaman.
Nash-nash mengenai hal ini banyak tercantum dalam Al Qur’an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa membuka aurat dan menonjolkan daya tarik tubuh merupakan rencana iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan Adam dan keturunannya, Allah berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (QS:Al-A’raf : 27).
Dalam jiwa manusia, syariat jauh lebih terhormat dan terjaga daripada budaya, meskipun mereka masih banyak kekurangan dalam mempraktikkan agama dalam perbuatan lahir. Karena budaya manusia berubah seiring pergantian generasi, sedangkan agama tetap bertahan dalam jiwa mereka meski terkadang pergi dan terkadang kembali.  Adapun budaya, jika telah pergi niscaya tidak akan kembali lagi.
Menutup aurat –termasuk hijab bagi wanita– merupakan ibadah rabbani yang selaras dengan fitrah manusia. Salah satu metode setan dan sekutunya adalah mengatakan bahwa berhijab bukan ibadah melainkan sekadar budaya, sehingga mudah dipermainkan keinginan hawa nafsu. Sifat hawa nafsu itu seperti angin, hanya membawa terbang hal-hal kecil. Meringankan perkara berat, lalu menghilangkannya, lebih mudah dibandingkan menghilangkan perkara berat.
Banyak klaim yang menyatakan bahwa hijab seorang wanita dan menutup aurat merupakan budaya dan adat, bukan ibadah dan agama. Sebuah ibadah tidak mungkin dihancurkan kecuali dengan dibuang dalilnya. Jika dalil-dalilnya kuat maka tidak mungkin dihancurkan kecuali dengan menentang seluruh syariat. Karena barangsiapa yang menentang satu saja ajaran penting dalam Islam, seolah-olah dia telah menentang Islam secara keseluruhan.

——————————————————————————————-
Diketik ulang dari buku “Hijab” karya AbdulAziz bin Marzuq Ath-Tharifi


Sumber: https://muslimah.or.id/8898-hijab-ibadah-atau-budaya.html
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Nikmat Usia

dakwatuna.com – Pada kesempatan ini, mari kita renungi sejenak salah satu nikmat Allah SWT yang sering sekali manusia alfa, yaitu soal usia. Padahal tak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia. Contohnya, bila sedetik berlalu dari kehidupan kita, sesungguhnya ia telah menjadi masa lalu, bagian sejarah dalam kehidupan anak cucu Adam.

Persoalannya adalah sudahkah kita hidup dengan mengoptimalkan setiap detik usia atau menyia-nyiakannya?
Pertanyaan ini penting diajukan mengingat umat Islam masih banyak yang terjebak dalam kemacetan berpikir tentang potensi usia yang dimilikinya. Banyak yang berpikir, ia baru akan berbuat baik, pergi ke masjid, mengaji dan ibadah lainnya nanti setelah usia lima puluhan, enam puluhan bahkan tujuh puluhan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat hal: Usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, serta ilmunya, apa yang ia telah perbuat dengannya.”

Setiap manusia akan ditanyakan tentang usia yang telah diberikan padanya. Bahkan secara khusus, akan juga ditanyakan tentang usia mudanya. Apa yang telah kita lakukan sepanjang masa muda itu? Barangkali, penyebutan secara khusus tentang masa muda, karena pada masa itulah kita tengah membentuk diri kita, menentukan jati diri kita, dan melakukan revolusi besar dalam sejarah hidup; menikah, berkeluarga, memiliki keturunan, membangun karier dan melakukan segala aktivitas duniawi.

Bila kita renungi lebih jauh, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh rangkaian kewajiban agama merupakan 
peringatan bagi diri kita tentang perjalanan usia. Lihatlah bagaimana permulaan masuk waktu subuh, misalnya. Tatkala malam membuka selimut fajarnya, berdirilah seorang muadzin menyerukan setiap insan yang tengah terlelap dalam tidurnya, “hayya ala shalah”. (Marilah tunaikan shalat) “As-shalatu khairu min nawum”. (Shalat itu lebih baik daripada tidur).

Jiwa yang suci akan menjawab panggilan itu dengan segara melakukan shalat subuh. Ia akan membasuh wajahnya dengan air wudhu, membersihkan dirinya dari belenggu syaitan dan menyambut harinya dengan hati yang bersih. Sementara jiwa yang terbuai dalam nina-bobo syaitan akan menarik selimutnya, melanjutkan mimpi-mimpinya, hingga ia kehilangan waktu yang sangat indah. Waktu subuh yang menyemburkan semburat kehidupan.

Untuk itulah, para ulama terdahulu, dalam upayanya optimalisasi setiap detik kehidupan yang dijalaninya, mengatakan, shalat lima waktu adalah “neraca harian” kita. Shalat Jumat merupakan “neraca pekanan”, puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam “neraca tahunan” dan menunaikan haji menjadi “neraca atau timbangan usia” kita.

Bila setiap muslim melakukan kalkulasi dengan benar pada neracanya itu niscaya ia akan beruntung dalam menapaki kehidupan ini. Umar bin Khattab RA berkata, “Barang siapa yang hari ini sama dengan harinya yang kemarin, maka dia adalah orang yang tertipu. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang tercela”. Waktu laksana angin, ia berembus cepat baik saat kita senang ataupun susah. Dan, manakala maut datang menjemput, masa-masa yang panjang yang pernah dilalui seseorang hanyalah merupakan bilangan masa pendek yang berlalu bagaikan kilat. Jika akhir dari usia adalah kematian, maka panjang-pendeknya usia seseorang hanya tertulis di batu nisan.

Ketika Nabi Nuh, seorang rasul yang berusia sembilan ratus lima puluh tahun hendak dicabut nyawanya, malaikat bertanya, “Wahai Nuh yang memiliki umur terpanjang, bagaimana kamu mendapati kehidupan dunia ini.” Nuh menjawab, “Dunia ini laksana rumah yang memiliki dua pintu, saya masuk dari pintu yang satu dan segera keluar dari pintu yang lain.”

Sungguh benar firman Allah SWT yang menggambarkan orang-orang kafir merasa sebentar saja di dunia, ketika dibangkitkan kelak. Allah SWT berfirman, “Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) yaitu di waktu sore atau di waktu pagi. (QS: An-Nazi’at ayat 46)

Untuk itulah, sering kita dapati orang yang meratapi masa mudanya saat ia telah berusia renta, lanjut dimakan zaman, rapuh dikikis angan-angan. Penyair Abdul Malik Ziyat menulis, “Seandainya masa muda itu dapat kembali sehari saja, niscaya akan kuberitahukan padanya apa yang telah dikerjakan oleh seorang yang renta ini”.

Karena itu pula, Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi SAW berkata, ““Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku hanyalah pada hari yang telah berlalu, di mana umurku berkurang dan amalku tidak kunjung bertambah”.
Usia adalah harta termahal yang dimiliki manusia. Hasan al-Basri, penyair Sufi mengatakan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kalian hanyalah sekumpulan dari hari-hari. Setiap kali hari berlalu, akan berlalu pula sebagian dari umurmu”.

Menutup tulisan ini, patut kita renungi anjuran doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai upaya optimalisasi usia. Doa itu, “Allahuma Inni A’udzu bika Minal Hammi wal Hazn, Wa A’udzu bika Minal ‘Azli wal Kasl” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesengsaraan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan).
Semoga kita termasuk orang yang pandai mengoptimalkan usia.
Wallahu’alam. (dakwatuna.com/hdn)

Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Achev Mujaddid Achev Mujaddid Author

Tentang Penulis

Foto saya
Seorang Penulis Amatir, Penikmat Alam dari setiap perjalanan yang tidak jauh. Mencoba Belajar memahami dari setiap langkah dan cerita yang tergambar dari lensa yang indah. Lanscape Alam Semesta. Instagram : @jejakachev Twitter : @jejakachev Whatsapp : http://bit.ly/achev123